headerphoto

MODUL PLPG PENDALAMAN MATERI SOSIOLOGI

Minggu, 18 Agustus 2013 07:32:32 - oleh : admin

MODUL PLPG
PENDALAMAN MATERI SOSIOLOGI

 

vi + 107 hal., 21,5 x 29,5 cm
ISBN: 978-602-8649-07-0

 


Penulis : Dr. Tjipto Subadi, M.Si
Penyelaras Bahasa : Laboratorium Pelayanan bahasa
Program Study PBSID-FKIP-UMS
Desain Cover : Catur Budi
Setting/Lay Out : Andi Widagdo
Penerbit : Badan Penerbit FKIP-UM

 

KATA PENGANTAR

Assalamu"alaikum warahmaullahi wa barokatuh.

Alhamdulillahirobbil'alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala rakmat taufiq dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Buku Materi LPG Mata Pelajaran Sosiologi Jenjang SMA. Buku ini merupakan materi Sertifikasi Guru Rayon 41 Surakarta Tahun 2011 yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem peningkatan mutu pendidik di Indonesia yang diamatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam buku ini disajikan materi pendalaman Sosiologi yang menjelaskan; Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan; Sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian; Perilaku penyimpangan; Interasi sosial dan pola struktur sosial; Pengendalian Sosial; Perubahan Sosial; Teori Sosiologi Makro dan Mikro; Rancangan Penelitian Sosial; dan Penulisan Penelitian Sosial.
Buku ini insya Allah bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan para guru soiologi pada khususnya yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, terlebih bagi pemerhati pendidikan yang tidak luput dengan persoalan-persoalan fundamental pendidikan yang berkaiatan dengan masalah sosial.
Buku ini dapat terbit atas bantuan akademik dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dekan FKIP-UMS, Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 41 FKIP-UMS dan Panitia Penyelenggara PLPG tahun 2011, yang telah memberi tugas dan kepercayaan kepada penulis untuk menyusun Buku Materi PLPG Mata Pelajaran Sosiologi untuk Janjang SMA.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman dosen dan karyawan FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang tidak bisa disebut namanya satu per-satu, yang telah memberikan dorongan dan harapan sekaligus do'a sehingga buku ini dapat selesai.
Buku ini disusun dan dikembangkan melalui berbagai sumber, namun demikian masih ada kekurangan, oleh karena itu kepada semua pihak diharapkan memberikan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan buku ini pada masa-masa yang akan datang. Semoga buku ini bermanfaat, amien ya robbal ‘alamien.

Wassamu'alaikum Warahmatullahi wa barokatuh.
Surakarta, Juni 2011
Penyusun

 

 

BAB I ORIENTASI SOSIOLOGI

Indikator:
1. Menjelaskan cirri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan
2. Memahami pentingnya nilai dan norma dalam masyarakat

A. Pendahuluan


Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu, dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan ilmiah tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang obyeknya manusia, yang berdiri sendiri sebab telah memenuhi unsur-unsur ilmu pengetahuan, yaitu logis, objektif, sistematis, andal, dirancang, akumulatif, dan empiris, teoritis, kumulatif, non etis.

Sosiologis bersifat logis artinya sosiologi disusun secara masuk akal, tidak bertentangan dengan hukum-hukum logika sebagai pola pemikiran untuk menarik kesimpulan. Sosiologi bersifat obyektif artinya sosiologi selalu didasarkan pada fakta dan data yang ada tanpa ada manipulasi dari data. Sosiologi bersifat sistematis artinya sosiologi disusun secara rapi, sesuai dengan kaidah keilmuan. Sosiologi bersifat andal artinya sosiologi dapat dibuktikan kembali, dan untuk suatu keadaan terkendali harus menghasilkan hasil yang sama. Sosiologi bersifat dirancang/direncanakan artinya sosiologi didesain lebih dahulu sebelum melaksanakan aktivitas penyelidikan. Sosiologi bersifat akumulatif artinya sosiologi merupakan ilmu yang akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan perkembangan keinginan dan hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sosiologi bersifat empiris, artinya sosiologi didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil penelitian. Sosiologi bersifat kumulatif, artinya sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. Sosiologi bersifat non-ethnis, artinya sosiologi yang dibahas dan dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis. (Tjipto Subadi, 2009:1-2)
Soerjono Soekanto (1986: 11) menjelaskan bahwa: 1) Sosiologi bersifat empiris, yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. 2) Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil penelitian. 3) Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. 4) Sosiologi bersifat non-ethis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana untuk membedakan sosiologi dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang tergabung pula dalam ilmu-ilmu sosial? Mengenai persoalan ini masih banyak tumpang tindih oleh karena pembedaannya tidak tegas dan bukan hanya menyangkut perbedaan dalam isi atau objek penyelidikan, akan tetapi juga menyangkut perbedaan tekanan pada unsur-unsur objek yang sama, atau lebih jelasnya pendekatan yang berbeda terhadap objek yang sama. Untuk lebih memberikan gambaran yang jelas dipersilahkan membaca secara cermat dan teliti uraian berikut ini..
1. Pengetian Sosiologi
a. Sosiolog De Saint Simon, bapak perintis sosiologi (1760-1825) menjelaskan bahwa sosiologi itu mempelajari masyarakat dalam aksi-aksinya, dalam usaha koleksinya, baik spiritual maupun material yang mengatasi aksi-aksi para peserta individu dan saling tembus menembus (lihat "Traite de Sociologie 1962, dari Georges Gurvitch Jilid I hal. 32).
b. Bapak sosiologi adalah Auguste Comte (1789-1853). Kata sosiologi mula-mula digunakan oleh Auguste Comte, dalam tuliasannya yang berjudul Cours de Philosopie Positive (Positive Philosophy) tahun 1842. Sosiologi berasal dari bahasa latin yang dari dua kata; Socius dan Logos. Secara harfiah atau etimologis kata socius berarti teman, kawan, sahabat, sedangkan logos berarti ilmu pangetahuan.
Jadi sosiologi berarti ilmu pengetahuan tentang bagaimana berteman, berkawan, bersahabat atau suatu ilmu yang membicarakan tentang bagaimana bergaul dengan masyarakat, dengan kata lain sosiologi mempelajari tentang masyarakat, atau ilmu pengetahuan tentang hidup masyarakat.
Secara operasional Auguste Comte menjelaskan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan pula hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan, didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, dibentuk berdasarkan observasi dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat serta hasilnya harus disusun secara sistematis.
c. Emile Durkheim (1858-1917) pernah menamakan sosiologi adalah ilmu tentang lembaga-lembaga sosial, yakni pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan yang sudah "tertera" yang sedikit banyak menundukkan para warga masyarakat.
d. Pitirim Sorokin (terjemahan bebas dari Sorokin, Contemporary Sociological Theories, 1928: 760-761) menjelaskan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya.
e. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff dalam bukunya yang berjudul "Sociology" Edisi Keempat, halaman 39 dijelaskan bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya berupa organisasai sosial.
f. J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers, dalam bukunya yang berjudul "Modern Sociology, Systematic en Analyse, (1964: 24) dijelaskam bahwa sosiologi ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. (Soerjono Soekanto, 1986:15-16).
g. Pengertian sosiologi dari ilmuwan sosial lain (Mayor Polak, 1979: 4-8) menjelaskan bahwa; sosiologi adalah: 1) Suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat. 2) Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni antar hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. 3) Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni antara hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok baik formal maupun material. 4) Sosiologi adalah suatu ilmu prengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakini antar-hubungan diantra manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
Dari beberapa definisi tentang sosiologi tersebut di atas terdapat dua hal yang penting dalam memahami sosiologi. Pertama, masyarakat sebagai keseluruhan. Kedua, masyarakat sebagai jaringan antar hubungan sosial. Tugas sosiologi adalah untuk menyelami, menganalisa dan memahami jaringan-jaringan antar hubungan itu.
2. Penerapan Teori Sosiologi.
Penerapan teori sosiologi dalam lingkungan masyarakat ditunjukkan adanya hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non-sosial, misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya. Dan ciri umum dari pada semua jenis gejala-gejala sosial. Roucek dan Warren (terjemahan bebas dari Roucek dan Werren, Socuology an Introduction, 1962: 3) bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.
3. Obyek Sosiologi
Meyer F. Nimkoff, dalam M. Nata Saputra (1982: 30-31) membagi objek sosiologi ke dalam 7 objek, yaitu: (1) faktor dalam kehidupan sosial manusia, (2) kebudayaan, (3) sifat hakiki manusia (human nature), (4) kelakuan kolektif, (5) persekutuan hidup, (6) lembaga sosial, dan (7) perubahan sosial (social change). Dalam garis besarnya ada 3 pendapat tentang objek sosiologi, yaitu;
a. Objek sosiologi adalah individu (individualisme).
Tokohnya George Simmel, yang memandang masyarakat dari sudut individu; kresatuan kelompok itu asalnya semata-mata dari kesatuan yang nyata berwujud yang terdiri dari manusia-manusia perorangan. George Simmel menitik beratkan pada daya pengaruh mempengaruhi antara individu-individu yang merupakan sumbar segala pembentukan kelompok.
b. Objek sosiologi adalah kelompok manusia / masyarakat (kolektivisme).
Tokohnya Ludwik Gumplowicz. Baginya masyarakat atau kelompok manusia merupakan satu-satunya objek sosiologi. Dalam peristiwa sejarah, individu adalah pasif di mana kehidupan kerokhaniannya ditentukan oleh kehendak masyarakat. Perhatian Ludwik terutama dicurahkan pada perjuangan antara golongan-golongan.
c. Objek sosiologi adalah realitas sosial.
Pandangan yang individualistis dan kolektivistis tersebut di atas itu biasanya dipandang sebagai berat sebelah, karena itu pandangan ketiga ini ingin menjauhi kelemahan itu. Pandangan ini melihat kehidupan sosial dari sudut saling mempengaruhi dan bersikap tidak memihak terhadap pertentangan antara kedua faham tersebut. Bahkan ada yang tidak mengakui pertentangan yang ada antara kedua faham itu.
Ada dua tokoh dalam pandangan ini; Pertama, Ch. H. Cooley berpendapat sosiologi ditujukan kepada realitas sosial. Ia mengembangkan konsepsi dari saling tergantung dan ketidak terpisahanya individu dan masyarakat. "Diri sendiri dan masyarakat itu adalah dua anak kembar". Begitu pula kesadaran sosial tak terpisah dari kesadaran sendiri. Teori Cooley berdasarkan pendapat bahwa pergaulan hidup masyarakat merupakan suatu keseluruhan. Individu dan masyarakat tak dapat ada sendiri-sendiri, tetapi kedua-duanya merupakan segi-segi dari suatu kenyataan. Satu hal yang penting dari teori ini adalah pengertian tentang "primary group" seprti keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan sahabat dan sebagainya. Primary group dengan hubungan face to face yang akrab, merupakan tempat mencetak semua sikap pribadi seseorang dan sikap-sikap sosial.
Kedua, L. Von Wiese. Ia menamakan sosiologi Beziehunglehre, yaitu ilmu pengetahuan mengenai perhubungan antara sesama manusia, atau hubungan sosial. Sosiologi dipandang sebagai ilmu pengetahuan empiris dan objeknya adalah perhubungan manusia membentuk sosial. Dasar penyelidikan sosiologi adalah hubungan sosial/proses sosial, yaitu perubahan-perubahan dalam social distance (perubahan-perubahan dalam jarak hubungan sosial). Ia terutama memperhatikan proses-proses sosial dari "assosiasi" (perkaitan) dan "disasosiasi" (perpecahan). Dalam suasana sosial, ia hanya melihat proses-proses dan rangkaian peristiwa-peristiwa yang tentunya juga melibatkan individu.
Menurut Jabal Tarik Ibrahim (2002: 2) obyek sosiologi adalah masyarakat, masyarakat yang dimaksud adalah hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan antar manusia dalam masyarakat. Masyarakat (society) adalah sejumlah orang yang bertempat tinggal hidup bersama menjadi satu kesatuan dalam sistem kehidupan bersama. Sistem hidup bersama ini kemudian menimbulkan kebudayaan termasuk siatem hidup itu sendiri.
4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:
1. Sosiologi sebagai ilmu dan metode
2. Interaksi sosial
3. Sosialisasi
4. Struktur sosial
5. Kebudayaan
6. Perubahan sosial budaya
5. Fungsi dan Tujuan
1. Fungsi
Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengaktualisasikan potensi-potensi diri mereka dalam mengambil dan mengungkapkan status dan peran masing-masing dalam kehidupan sosial dan budaya yang terus mengalami perubahan.
2. Tujuan
Tujuan pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar Sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Sejarah Lahirnya Sosiologi sebagai Suatu Ilmu
Subadi dalam bukunya yang berjudul Sosiologi dan Sosiologi pendidikan (2009: 6-12) menulis sejarah lahirnya sosiologi bahwa sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri, sosiologi masih berumur relatif muda yaitu kurang dari 200 tahun. Istilah sosiologi untuk pertama kali diciptakan oleh Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering disebut sebagai bapak sosiologi. Istilah sosiologi ia tuliskan dalam karya utamanya yang pertama, berjudul The Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Karyanya mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah. Menurut Comte ilmu sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Hal ini merupakan pandangan baru pada saat itu.
Di Inggris Herbert Spencer menerbitkan bukunya Principle of Sociology dalam tahun 1876. Ia menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang "evolusi sosial" yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian. Seorang Amerika Lester F. Ward yang menerbitkan bukunya "Dynamic Sociology" dalam tahun 1883, menghimbau kemajuan sosial melalui tindakan-tindakan sosial yang cerdik yang harus diarahkan oleh para sosiolog. Seorang Perancis, Emile Durkheim menunjukkan pentingnya metodologi ilmiah dalam sosiologi. Dalam bukunya Rules of Sociological Method yang diterbitkan tahun 1895, menggambarkan metodologi yang kemudian ia teruskan penelaahannya dalam bukunya berjudul Suicide yang diterbitkan pada tahun 1897. Buku itu memuat tentang sebab-sebab bunuh diri, pertama-tama ia merencanakan disain risetnya dan kemudian mengumpulkan sejumlah besar data tentang ciri-ciri orang yang melakukan bunuh diri dan dari data tersebut ia menarik suatu teori tentang bunuh diri.
Kuliah-kuliah sosiologi muncul di berbagai universitas sekitar tahun 1890-an. The American Journal of Sociology memulai publikasinya pada thun 1895 dan The American Sociological Society (sekarang bernama American Sociological Association) diorganisasikan dalam tahun 1905. Sosiolog Amerika kebanyakan berasal dari pedesaan dan mereka kebanyakan pula berasal dari para pekerja sosial; sosiolog Eropa sebagian besar berasal dari bidang-bidang sejarah, ekonomi politik atau filsafat.
Urbanisasi dan industrialisasi di Amerika pada tahun 1900-an telah menciptakan masalah sosial. Hal ini mendorong para sosiolog Amerika untuk mencari solusinya. Mereka melihat sosiologi sebagai pedoman ilmiah untuk kemajuan sosial. Sehingga kemudian ketika terbitnya edisi awal American Journal of Sociology isinya hanya sedikit yang mengandung artikel atau riset ilmiah, tetapi banyak berisi tentang peringatan dan nasihat akibat urbanisasi dan industrialisasi. Sebagai contoh suatu artikel yang terbit di tahun 1903 berjudul "The Social Effect of The Eight Hour Day" tidak mengandung data faktual atau eksperimental. Tetapi lebih berisi pada manfaat sosial dari hari kerja yang lebih pendek.
Namun pada tahun 1930-an beberapa jurnal sosiologi yang ada lebih berisi artikel riset dan deskripsi ilmiah. Sosiologi kemudian menjadi suatu pengetahuan ilmiah dengan teorinya yang di dasarkan pada obeservasi ilmiah, bukan pada spekulasi-spekulasi. Para sosiolog tersebut pada dasarnya merupakan ahli filsafat sosial. Mereka mengajak agar para sosiolog yang lain mengumpulkan, menyusun, dan mengklasifikasikan data yang nyata, dan dari kenyataan itu disusun teori sosial yang baik.
Sejarah lahirnya sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut;
1. Sejak tahun 1800-an ketika Auguste Comte pertama kali menggunakan kata sosiologi dalam bukunya yang berjudul; Positive Philosophy pada tahu 1842, sosiologi kemudian diakui sebagai ilmu pengetahuan dan Comte kemudian disebut sebagai bapak sosiologi karena Comte-lah yang pertama mengusulkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berdasarkan pengamatan empiris, disusun secara sistematis, dan ilmiah.
2. Kemudian pada tahun 1876, Herbert Spencer (Inggris) menerbitkan teks sosiologi pertama.
3. Pada tahun 1883 di Amerikan, Lester F Ward menerbitkan buku yang berjudul Dynamic Sociology.
4. Disusul sosiolog yang lain, Max Weber di Jerman, Emile Durkheim di Perancis, dan kemudian diikuti William Graham Sumner, Charles Horton Coooley, dan Albion W Small di Amerika Serikat.
5. Pada tahun 1890 kalangan Universitas di Amerika memunculkan sosiologi dan menerbitkan American Journa of Sociology tahun 1895. Dalam perkembangannya kemudian di Amerika membentuk organisasi American Sociological Association pada tahun 1905.
6. Selanjutnya dijelaskan bahwa sejarah perkembangan sosiologi menurut Bouman dalam Saputra (1982: 8) membagi dalam 4 fase yaitu;
(a) Fase pertama, sosiologi sebagai bagian dari pandangan filsafat umum, terutama mengenai negara, hukum, dan moral dalam sel-sel etika atau norma keagamaan.
(b) Fase kedua, sosiologi yang berdasarkan ajaran ketentuan hukum kodrat yang meliputi segalanya.
(c) Fase ketiga, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri tetapi dengan metode ilmu pengetahuan lainnya.
(d) Fase keempat, sosiologi yang berdiri sendiri dengan objek, metode, dan pembentukan pengertian sendiri.
7. Sedangkan menurut Ary. H. Gunawan (2000: 8-9) mazhab-mazhab sosiologi setelah Comte adalah;
b. Mazhab geografi dan lingkungan, ajaran (teori) yang menghubungkan faktor keadaan alam (lingkungan) dengan struktur serta organisasi social, lingkungan mempengaruhi struktur dan organisasi sosial. Jadi lingkungan mempengarui struktur serta organisasi social.
c. Mazhab organis dan Evolusioner, membandingkan masyarakat manusia dengan organisme manusia dan beranggapan bahwa organisasi secara evolusi akan semakin sempurna sifatnya.
d. Mazhab formil, masyarakat merupakan wadah saling hubungan (interaksi) antara individu dengan kelompok, dan seseorang tidak mungkin menjadi pribadi yang bermakna tanpa menjadi warga masyarakat, (4) mazhab psikologi, masyarakat adalah proses imitasi (La societe' c'est l'imitation), yaitu proses kejiwaan, semua interaksi sosial&seluruh pergaulan antar manusia, masyarakat menjadi masya rakat sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi orang lain.
e. Mazhab ekonomi, Karl Marx mempergunakan metode sejarah dan filsafat untuk membentuk suatu teori tentang perubahan perkembangan manusia menuju suatu keadaan yang berkeadilan social.
f. Mazhab hukum, hukum itu adalah kaidah-kaidah yang memiliki sanksi dimana berat ringannya sanksi tergantung pada sifat pelanggaran.
8. Di Indonesia pada tahun 1948 ilmuwan sosial yang pertama kali mengajarkan sosiologi adalah Soenario Kolopaking di Akademi Ilmu Politik sekarang bernama UGM. perkembangan sosiologi di Indonesia, menurut Selo Soemardjan, sosiologi telah dibicarakan oleh Sri Paku Buwono IV dari Surakarta dalam karyanya "Wulang Reh" antara lain mengajarkan tata hubungan para anggota berbagai golongan dalam intergroup relations.
9. Ki Hajar Dewantara juga telah memberikan sumbangannya kepada sosiologi dengan konsepsi kepemimpinan, pendidikan serta kekeluargaan di Indonesia dan sekarang dikenal dengan istilah "Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani.
10. Sosiolog yang lain yang memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosiologi adalah Mr. Djody Gondokoesoemo dengan bukunya yang berjudul Sosiologi Indonesia.
11. Hasan Shadily dengan bukunya Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia telah memuat bahan-bahan sosiologi modern.
12. Drs. JBAF Mayor Polak (tamatan Universitas Leiden Belanda) telah menerbitkan buku Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas. Selo Soemarjan dengan bukunya Social Changes In Yogyakarta (1962) tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat Yogyakarta sebagai akibat revolusi politik dan sosial pada waktu pusat revolusi masih di Yogyakarta, dan Setangkai Bunga Sosiologi yang merupakan buku wajib beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
C. Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan
"Ilmu" (Bahasa Arab) berarti "pengetahuan" Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui seseorang dengan jalan apapun. Ilmu atau ilmu pengetahuan ialah pengetahuan seseorang yang diperoleh dengan penelitian yang mendalam, yang diperoleh dengan mempergunakan metode-metode ilmuah. Metode ilmiah adalah segala cara yang dipergunakan oleh sesuatu ilmu untuk sampai kepada pembentukan ilmu menjadi suatu kesatuan yang sistematis, organis dan logis.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi sosiologi agar dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan, yang disebut LOSADA
a. Logis (masuk akal, dan tidak bertentangan dengan hokum-hukum logika sebagai pola pemikiran menarik kesimpulan)
b. Objektif (yang dibahas adalah masyarakat)
c. Sistematis (disusun secara benar dan rapi sesuai dengan bahasa yang benar).
d. Andal (dapat dibuktikan kembali, dan untuk keadaan terkendali harus menghasilkan hasil yang sama)
e. Dirancang atau direncanakan (datangnya ilmu tidak tiba-tiba, tetapi harus didesain lebih dahulu sebelum melaksanakan aktivitas penelidikan)
f. Akumulatif (ilmu akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan perkembangan keinginan dan hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (M Fatah Santoso, 2009: 300).
D. Kegunaan dan Ciri-Ciri Sosiologi
Kegunaan sosiologi dalam kehidupan sehari-hari yaitu :
a. Untuk pekerjaan sosial, seperti memberikan gambaran tentang pelbagai problem sosial, asal usul, sumber terjadinya, prosesnya dsb.
b. Untuk pembangunan pada umumnya, yaitu dengan memberikan pengertian tentang masyarakat secara luas, sehingga para perencana dan pelaksana pembangunan dapat mencari pola pembangunan yang paling sesuai agar berhasil.
Sedangkan ciri-ciri sosiologi adalah sebagai berikut:
(1) Sosiologi termasuk kelompok ilmu sosial. Maksudnya sosiologi adalah ilmu yang mempelajari peristiwa/gejala sosial.
(2) Sosiologi bersifat kategoris (deskriptif), tidak normative, artinya bahwa sosiologi membicarakan objeknya secara apa adanya.
(3) Sosiologi termasuk ilmu murni (pure science), bahwa sosiologi bukan ilmu praktis, artinya tujuan penelitian ilmu sosiologi semata-mata demi perkembangan ilmu itu sendiri, bukan untuk kepentingan kehidupan praktis.
(4) Sosiologi bersifat generalis (nometetis), sosiologi meneliti prinsip-prinsip umum saling hubungan manusia, bukan ideografis, yakni meneliti secara khusus peristiwa demi peristiwa.
(5) Sosiologi bersifat abstrak, hampir sama dengan generalis, perbedaan terletak pada penekanannya, yaitu pada wujud kesatuan yang bersifat umum atau terpisah-pisah.
(6) Sosiologi bersifat rasional sekaligus empiris, artinya menyandarkan pada pemikiran logika sekaligus berdasarkan fakta/kenyataan yang ada dalam masyarakat.
(7) Sosiologi merupakan ilmu yang umum (general), artinya sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada setiap interaksi manusia, bukan mempelajari ilmu dengan gejala khusus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Bahan Ajar" Lainnya