headerphoto

IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN BENCANA LONGSOR DI KAKI VULKAN GUNUNG LAWU, KECAMATAN MATESIH, KABUPATEN

Kamis, 24 Oktober 2013 21:58:02 - oleh : admin
IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN BENCANA LONGSOR DI KAKI VULKAN GUNUNG LAWU, KECAMATAN MATESIH, KABUPATEN KARANGANYAR R. Muhammad Amin Sunarhadi Muhammad Yusuf FKIP - Pendidikan Geografi / Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta Abstraksi Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah dengan tujuan untuk mengetahui kerawanan longsor di Kaki Vulkan Gunung Lawu Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei untuk menentukan kawasan rawan bencana longsor didasarkan pada hasil pengkajian terhadap daerah yang diidentifikasi berdasar aspek fisik dan manusia.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Kaki Vulkan Gunung Lawu yang paling tinggi kerawanannya terhadap bencana longsor terdapat di Desa Karangpandan, Desa Koripan, Desa Girilayu, dan Desa Pablengan dengan total nilai bobot tertimbang sebesar 4,60. Sedangkan untuk kawasan sedang berada di Desa Plosorejo, Desa Ngadiluwih, Desa Matesih, Desa Pablengan, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 37,79 dengan bentuk lahan kaki vulkan denudasi sedang dan bentuk lahan kaki vulkan denudasi berat. Kawasan dengan kerawanan rendah terdapat di Desa Plosorejo, Desa Pablengan, Desa Karangbangun, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 1,40 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi berat dan 3,36 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi ringan.  Kata kunci: bencana longsor, kaki vulkan  1. Pendahuluan  Tanah longsor adalah suatu produk dari proses gangguan keseimbangan yang menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Pergerakan tersebut terjadi karena adanya faktor gaya yang terletak pada bidang tanah yang tidak rata atau disebut dengan lereng. Selanjutnya, gaya yang menahan massa tanah di sepanjang lereng tersebut dipengaruhi oleh kedudukan muka air tanah, sifat fisik tanah, dan sudut dalam tahanan geser tanah yang bekerja di sepanjang bidang luncuran (Sutikno, 1997). Faktor penyebab tanah longsor secara alamiah meliputi morfologi permukaan bumi, penggunaan lahan, litologi, struktur geologi, curah hujan, dan kegempaan. Selain faktor alamiah, juga disebabkan oleh faktor aktivitas manusia yang mempengaruhi suatu bentang alam, seperti kegiatan pertanian, pembebanan lereng, pemotongan lereng, dan penambangan (Dwikorita Karnawati, 2005). Kecenderungan terjadinya korban jiwa dan harta benda akibat bencana alam di daerah rawan bencana longsor (unstable land) dewasa ini semakin besar. Berdasarkan data dari Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dalam 5 tahun terakhir ini setidaknya telah terjadi sebanyak 422 kali tanah longsor dengan korban tewas sebanyak 529 orang dan 3.898 bangunan rumah hancur (Kompas, 2 Desember 2000).   Jumlah korban yang besar akibat longsor terus saja berlangsung, dikarenakan rendahnya tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat dan Pemerintah. Hal ini diakibatkan belum tersedianya informasi yang lengkap dan akurat mengenai kawasan rawan longsor, beserta peraturan dan penuntun yang bisa dijadikan dasar dalam setiap aktifitas pembangunan atau pengembangan di kawasan rawan bencana longsor.  Pada dasarnya, kondisi lingkungan fisik suatu daerah dapat dibedakan menjadi dua yaitu: (1) faktor pendukung berupa lingkungan fisik yang mendukung penataan ruang suatu daerah antara lain kesuburan tanah, ketersedian sumberdaya air, dan mineral, morfologi lahan yang landai, dan lereng yang stabil; (2) faktor penghambat yaitu peruntukan lahan dalam penataan ruang suatu daerah, antara lain langkanya sumberdaya air, kemudahan atau kepekaan batuan terhadap erosi, lereng yang labil, dan bahaya geologi (Coates, 1981 dan Keller, 1982). Upaya manajemen bencana longsor pada saat ini masih menitikberatkan pada tahap “saat terjadi bencana” dan “pasca bencana” saja sehingga untuk kedepan peran dan fungsi mitigasi bencana sebenarnya menjadi sangat strategis.  Berdasarkan dokumen peta indeks rawan bencana Provinsi Jawa Tengah yang dibuat pada tanggal 09 Febuari 2010 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dari peta tersebut, diketahui sebaran daerah- daerah yang tingkat kerawanan rendah, sedang dan tinggi terhadap bencana. Kabupaten Karanganyar termasuk dalam daerah yang kerawanan tingkat tinggi terutama indikator bencana yang terjadi adalah bencana tanah longsor. Kecamatan Matesih merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Karanganyar. Keadaan topografi wilayah Kecamatan Matesih bervariasi yaitu dengan kemiringan berkisar 0% hingga 40% dengan kemiringan menuju kearah barat, sebelah timur relatif lebih tinggi dari wilayah sebelah barat. Ketinggian wilayah Kecamatan Matesih dari permukaan laut sekitar 450 meter dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 220C - 310C serta dengan curah hujan berkisar antara 2.000 hingga 3.000 mm/tahun. Bentuklahan berasal dari material vulkan Gunung Lawu dengan jenis tanah di Kecamatan Matesih adalah tanah mediteran dan latosol. Kondisi demikian sangat rentan terhadap terjadinya longsor lahan sehingga perlu identifikasi kawasan rawan bencana longsor. Identifikasi kawasan rawan bencana longsor ditentukan oleh beberapa pendekatan yaitu: Pendekatan kerentanan geologi dan kemantapan lereng, serta penataan ruang, Pendekatan kerentanan geologi dan kemantapan lereng melalui aspek: a) Aspek geologi yaitu melalui kegiatan pengamatan yang berkaitan dengan struktur, jenis batuan, geomorfologi, topografi, geohidrologi dan sejarah hidrologi yang dilengkapi dengan kajian geologi (SNI 03-1962-1990) atau kajian yang didasarkan pada kriteria fisik alami dan kriteria aktifitas manusia. b) Aspek kemantapan lereng dengan hampiran mekanika tanah/batuan dan kemungkinan suatu lereng akan bergerak di masa yang akan datang. Menurut Goenadi, Sartohadi, Hardiyatmo, Hadmoko, dan Giyarsih (2003), faktor pemicu terjadinya longsor dikelompokkan menjadi dua, yakni faktor yang bersifat tetap (statis), dan faktor yang bersifat mudah berubah (dinamis). Faktor pemicu yang bersifat dinamis ini mempunyai pengaruh yang cukup besar karena kejadian tanah longsor sering dipicu oleh adanya perubahan gaya atau energi akibat perubahan faktor yang bersifat dinamis. Faktor pemicu dinamis berupa curah hujan dan penggunaan lahan. Pada kelompok faktor pemicu yang bersifat dinamis, faktor kegempaan daerah penelitian dapat dianggap mempunyai tingkat faktor kegempaan yang sama. Selanjutnya, faktor pemicu terjadinya tanah longsor yang bersifat statis dibagi lagi ke dalam dua kelompok, yaitu faktor batuan (jenis litologi penyusun dan struktur geologi), dan faktor (sifat fisik) tanah. Berdasarkan latar belakang dan masalah tersebut penelitian ini bertujuan menentukan kawasan dengan tingkat kerawanan bencana longsor di Kaki Vulkan Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar berdasar indikator aspek fisik dan manusia.  2. Metode Penelitian  Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survey yang meliputi kegiatan pengamatan, pencacatan, pengukuran di lapangan, dan analisis data sekunder. Penetapan kawasan bencana longsor dan zonasi berpotensi longsor didasarkan pada hasil pengkajian terhadap daerah yang diidentifikasi berpotensi longsor atau lokasi yang diperkirakan terjadi longsor akibat proses aspek fisik dan aspek manusia.  Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi: 1. Data aspek fisik alami meliputi: kemiringan lereng, kondisi tanah, batuan lereng, tata air lereng, vegetasi, curah hujan, dan kegempaan jika pernah terjadi. 2. Data aspek aktifitas manusia meliputi: pola tanam, pengalian pemotongan lereng, drainase, pembangunan kontruksi, kepadatan penduduk, usaha mitigasi, dan pecetakan kolam. 3. Data-data pendukung penelitian perencanaan tata ruang rawan bencana longsor di daerah penelitian.  Upaya penanggulangan bencana dan minimalisasi dampak negatif bencana longsor tanah ini, tentunya memerlukan data dan informasi spasial maupun temporal tingkat kerawanan bencana, karakteristik fisik dan sosial ekonomi wilayah rawan longsor, karakteristik longsoran (meliputi mekanisme kejadian tanah longsor dan faktor pemicunya), teknik dan cara-cara penanggulangan longsor tanah yang baik. Klasifikasi longsor lahan yang meliputi luncuran (slump), runtuhan (debris slides), runtuhan jatuh (debris fall), longsor batuan (rock slide), dan runtuhan jatuh (rock foll). Pengukuran tingkat kerawanan dilakukan terhadap faktor-faktor fisik alami seperti kemiringan lereng, karakteristik tanah (soil) dan lapisan batuan (litosfir), struktur geologi, curah hujan, dan hidrologi lereng; serta faktor-faktor aktifitas manusia seperti kepadatan penduduk, jenis kegiatan dan intensitas penggunaan lahan/lereng, dan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi bencana longsor (Dwikorita Karnawati, 2005). Suatu daerah berpotensi longsor, dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) tingkatan kerawanan berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas sebagai berikut: a. Kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi Merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi untuk mengalami gerakan tanah dan cukup padat permukimannya, atau terdapat konstruksi bangunan sangat mahal atau penting. Pada lokasi seperti ini sering mengalami gerakan tanah (longsoran), terutama pada musim hujan atau saat gempa bumi terjadi. b. Kawasan dengan tingkat kerawanan sedang  Merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi untuk mengalami gerakan tanah, namun tidak ada permukiman serta konstruksi bangunan yang terancam relatif tidak mahal dan tidak penting c. Kawasan dengan tingkat kerawanan rendah  Merupakan kawasan dengan potensi gerakan tanah yang tinggi, namun tidak ada risiko terjadinya korban jiwa terhadap manusia dan bangunan. Kawasan yang kurang berpotensi untuk mengalami longsoran namun didalamnya terdapat permukiman atau konstruksi penting/mahal, juga dikategorikan sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan rendah (PPR KRBL No.22/PRT/M/ 2007). 3. Hasil dan Pembahasan Laporan singkat dari hasil penyelidikan Kesbanglinmas Kabupaten Karanganyar (2007) menyebutkan bahwa bencana tanah longsor di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah tersebar di beberapa daerah antara lain; Kecamatan Tawangmangu,  Kecamatan Karangpandan, Kecamatan Matesih, Kecamatan Jatiyoso, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jenawi, dan Kecamatan Kerjo. Selain itu ada tujuh titik berpotensi longsor yang menjadi fokus pengawasan pemerintah Kabupaten Karanganyar, salah satunya adalah Desa Girimulyo di Kecamatan Matesih.   3.1. Bentuk Lahan Bentuk lahan adalah kenampakan medan yang terbentuk oleh proses-proses alam dan mempunyai komposisi sebagian karakteristik fisik dan visual dalam julat tertentu dimanapun bentuk lahan tersebut dijumpai (Way, 1973 dalam Van Zuidam. et.al, 1979). Bentuk lahan merupakan bagian dari permukaan bumi yang mempunyai bentuk khas sebagai akibat dari proses dan struktur batuan selama periode tertentu. Keberadaannya ditentukan oleh faktor: topografi, struktur/batuan, dan proses eksogenetik. Kecamatan Matesih didominasi satuan bentuk lahan dataran kaki vulkan (Fluvio Volcanic Foot) dan satuan bentuk lahan kaki vulkan (Volcanic Foot). a. Dataran Kaki Vulkan Unit morfologi ini memiliki kemiringan < 10 dan proses yang dominan terjadi adalah erosi lateral dan pengendapan. Material penyusunnya terdiri atas lempung yang berasal dari endapan lereng di atasnya dan merupakan endapan fluvial rombakan gunungapi yang terjadi kembali. b. Kaki Vulkan Unit morfologi ini mempunyai kemiringan 8o hingga 20o dan terletak pada ketinggian 550 – 1.100 m dpal. Proses yang terjadi adalah erosi, pengangkutan dan pengendapan. Material penyusun batuan terdiri atas tuff, abu breksi, anglomerat dan sisipan aliran lava. Kawasan ini banyak ditumbuhi vegetasi. 3.2. Penetapan Kawasan Rawan Bencana Longsor Pada prinsipnya longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban, dan berat jenis tanah dan batuan, sedangkan gaya penahan pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Penetapan kawasan rawan bencana longsor dilakukan melalui identifikasi dan inventarisasi karakteristik fisik alami yang merupakan faktor pendorong penyebab terjadinya longsor. Secara umum terdapat 14 (empat belas) faktor pendorong yang dapat menyebabkan terjadinya longsor sebagai berikut: a. Curah hujan yang tinggi b. Lereng yang terjal c. Lapisan tanah yang kurang padat dan tebal d. Jenis batuan (litologi) yang kurang kuat e. Jenis tanaman dan pola tanam yang tidak mendukukung penguatan lereng f. Getaran yang kuat (peralatan berat, mesin pabrik, kendaraan bermotor) g. Susutnya muka air danau/bendungan h. Beban tambahan seperti konstruksi bangunan dan kendaraan angkutan i. Terjadinya pengikisan tanah atau erosi j. Adanya material timbunan pada tebing k. Bekas longsoran lama yang tidak segera ditangani l. Adanya bidang diskontinuitas m. Pengundulan hutan; dan atau n. Daerah pembuangan sampah Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa daerah yang rawan terhadap bencana longsor menurut kriteria diatas daerah yang rawan longsor tinggi terdapat di Desa Karangpandan, Desa Koripan, Desa Girilayu, dan Desa Pablengan dengan nilai bobot untuk criteria fisik alami sebesar 4,60. Sedangkan untuk kawasan sedang berada di Desa Plosorejo, Desa Ngadiluwih, Desa Matesih, Desa Pablengan, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 37,79 dengan bentuk lahan kakan vulkan denudasi sedang dan bentuk lahan kaki vulkan denudasi berat. Untuk kawasan rendah terdapat di Desa Plosorejo, Desa Pablengan, Desa Karangbangun, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 1,40 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi berat, 3,36 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi ringan. 4. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penetapan kawasan rawan bencana longsor di Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar menurut tingkat kerawanan sebagaimana berikut: 1. Tingkat tinggi terdapat di Desa Karangbangun, Desa Koripan, Desa Girilayu, dan Desa Pablengan dengan nilai bobot untuk criteria fisik alami sebesar 4,60. 2. Tingkat sedang berada di Desa Plosorejo, Desa Ngadiluwih, Desa Matesih, Desa Pablengan, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 37,79 dengan bentuk lahan kakan vulkan denudasi sedang dan bentuk lahan kaki vulkan denudasi berat. 3. Tingkat rendah terdapat di Desa Plosorejo, Desa Pablengan, Desa Karangbangun, dan Desa Koripan dengan jumlah nilai bobot tertimbang adalah 1,40 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi berat, 3,36 di bentuk lahan dataran kaki vulkan denudasi ringan.DAFTAR PUSTAKA  Anonim. 2007.  Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor Peraturan Mentri Pekerjaan Umum NO.22/PRT/M/2007. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang.  Anonim. 2007. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Bandung  Anonim. 2010. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Anonim. 2007. KesBag Linmas kabuapeten karanganyar  Fatmawati.  2007. Analisis Tingkat Kerawana Longsor Lahan Di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Skripsi Fakultas Geografi UMS. Surakarta Goenadi, S.J., Sartohadi, H.C. Hardiyatmo ., D.S. Hadmoko ., dan S.R Giyarsih. 2003. Konservasi Lahan Terpadu Daerah Rawan Bencana Longsoran di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Penelitian. Pusat Studi Bencana Alam (PSBA)-Lembaga Penelitian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Kuswaji Dwi Priyono, yuli Priyana, Priyono. 2006. Analisis Tingkat Bahaya Longsor Tanah Di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Forum Geografi, Vol. 20, No. 2, Desember 2006: 175 – 189 Dwikorita Karnawati. 2004. Bencana Gerakan Massa Tanah/ Batuan di Indonesia; Evaluasi dan Rekomendasi, Dalam Permasalahan, Kebijakan dan Penanggulangan Bencana Tanah Longsor di Indonesia. P3 -TPSLK BPPT dan HSF. Jakarta. Dwikorita Karnawati. 2005. Bencana Alam Gerak Massa Tanah di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya. Yogyakarta Oktaviana Widiastuti. 2005. Analisis Kerentanan Gerak Massa untuk Perencanaan Tata Ruang dan Pengembangan wilayah Kecamatan Bawang Kabupaten Batang Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Geografi UMS. Surakarta Sutikno. 2001. Pengelolaan Data Spasial Untuk Penyusunan Sistem Informasi Penanggulangan Tanah Longsor di kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Makalah Seminar Dies Fakultas Geografi UGM ke-38 Tanggal 29 Agustus 2001, Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM. Tarigan. R. 2006. Perencanaan pembangunan Wilayah. Bumi Aksra. Jakarta  Titi Nurliyati. 2001. Tingkat kerentanan gerak massa tanah dan batuan di Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Skripsi. Fakultas Geografi UMS. Surakarta Zuidam, R.A. & Zuidam Cancelodo, F.I, 1979 and 1985, Terrain Analysis and Classification Using Areal Photographs, A Geomorphologycal Approach, Netherland, Enschede. ITC

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Laporan Penelitian" Lainnya