headerphoto

Timur Tengah Diambang Perang

Sabtu, 6 Oktober 2012 02:40:32 - oleh : admin

htpp://pelitaonline.com

 

Rabu, 01 Februari 2012

Timur Tengah Diambang Perang

Oleh Tjipto Subadi

Rencana Pasukan Garda Revolusi Republik Islam Iran (Pasdaran) yang dipimpin Panglimanya Laksamana Ali Fadavi, untuk mengadakan latihan militer selama sebulan penuh yang dimulai pada awal Februari ini di Selat Hormuz dan Teluk Persia, dipastikan akan semakin memanaskan suhu politik dan militer yang sudah membara di Timur Tengah. Latihan militer dengan sandi ‘The Great Prophet’ itu dipastikan akan menaikkan tensi ketegangan militer di Teluk Persia.

Sebelumnya akhir tahun lalu Iran juga mengadakan latihan militer di dan sekitar Selat Hormuz selama 10 hari dengan sandi ‘Velayat-90’. Latihan itu dimaksudkan sebagai persiapan untuk memblokade Selat Hormuz yang merupakan urat nadi 20 persen pengiriman minyak dunia dari negara penghasil minyak di Teluk Persia. Dalam latihan itu Iran juga berhasil meluncurkan rudal jelajah anti kapal, Khalij Fars, dengan daya jangkau 300 km yang mampu membawa bom seberat 1 ton. Rudal Khalij Fars digunakan untuk menengelamkan kapal dalam ukuran besar seperti kapal induk.

Sementara itu, Israel dan AS juga berencana melakukan latihan militer gabungan di Laut Tengah. Latihan dimaksudkan untuk persiapan apabila sampai terjadi perang dengan Iran. Selain itu AS telah mengirim kapal induk pembawa pesawat tempur USS Abraham Lincoln dari Armada VII ke Laut Arab dekat pantai Iran. Sebelumnya kapal induk USS Carl Vinson dari Armada VI dan USS John Stennis dari Armada V sudah menempati posisi di perairan barat Samudera Pasifik. Semula USS John Stennis berlabuh di pangkalan Armada V di Bahrain, tetapi kemudian ditarik ke Samudera Pasifik ketika Iran mengadakan latihan militer di Selat Hormuz. Dari ketiga kapal induk itu, terdapat kurang lebih 250 pesawat dan helicopter tempur dengan 18.000 pasukan marinir di dalamnya.

Diambang Perang
Dalam pertemuan dengan para diplomat asing di Paris Jumat (20/1) lalu, Presiden Perancis Nicholas Sarkozy memperingatkan intervensi militer ke Iran dapat memicu perang dan chaos di seluruh wilayah Timur Tengah bahkan dunia. Peringatan Presiden Sarkozy itu benar-benar serius, sebab dirinya tahu betul perang akan segera meletus jika kedua belah pihak tidak mampu menahan diri. Sebagai gantinya, Sarkozy mengusulkan sangsi lebih keras kepada Teheran seperti membekukan asset bank sentral Iran dan melakukan embargo ekspor minyak Iran. Hal itu akan terjadi jika Iran tidak bersedia menghentikan program nuklirnya yang oleh Barat dituduh ingin membuat bom nuklir.
Meski Iran terus membantahnya dan program nuklirnya hanya digunakan untuk tujuan ilmiah dan memperoleh listrik, namun Barat tetap tidak percaya. Apalagi setelah IAEA pada November tahun lalu melaporkan Iran terus menambah persediaan uranium berpengayaan rendah (LEU). Iran mulai merancang sebuah hulu ledak nuklir dan penelitian terkait rahasia senjata nuklir mungkin sedang berlangsung. Iran juga mulai memindahkan bahan bakar nuklir ke fasilitas bawah tanah di Fordow dekat Qom untuk mengejar kegiatan atom yang sensitif.

Sementara itu pasar minyak mentah dunia baru mendengar rencana Iran untuk memblokir Selat Hormuz, harga minyak sudah mulai bergerak naik hingga USD114 per barrel untuk jenis brent Laut Utara, padahal sebelumnya hanya USD98 per barrel (166 liter). Tidak dapat dibayangkan jika Selat Hormuz benar-benar diblokade Iran dan terjadi perang AS-Israel versus Iran, maka harga minyak dunia akan meroket hingga USD 200 per barrel, maka sebagai dampaknya ekonomi dunia akan terguncang hebat. Sebab pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setiap harinya yang dilakukan kapal-kapal tanker raksasa akan berhenti total karena terjadinya perang besar yang belum diketahui kapan akan berakhirnya. Padahal selama ini sebagai produsen minyak terbesar di dunia, Arab Saudi mampu berproduksi 10 juta barel perhari (bph), sementara Iran 3,55 juta bph, Irak 2,68 juta bph dan Kuwait 2,64 juta bph, dimana mayoritas dikirim dengan kapal tanker raksasa melewati Selat Hormuz yang strategis tetapi sempit.

Meski Menhan Leon Panetta menyatakan militer AS terkuat di dunia, dan Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Martin Dempsey ketika berjunjung ke Israel, Jum’at (20/1) lalu menyatakan AS akan mengalahkan Iran jika sampai terjadi perang, hal itu menunjukkan kedua pejabat tinggi militer AS itu terlalu optimis dan meremehkan kekuatan militer Iran. Jangankan mengalahkan Iran, untuk menundukkan para pejuang Taliban Afghanistan dengan persenjataan sangat sederhana saja AS tidak mampu, bahkan diprediksi Taliban akhirnya akan berhasil mengalahkan AS. Nasib serupa juga dialami pasukan AS di Irak. Demikian pula meski dengan persenjataan modern, AS kalah dalam perang Vietnam dan 56.000 pasukan AS gugur disana.

Barangkali AS terlalu optimis setelah berhasil mengalahkan rezim Kolonel Muammar Khadafi di Libya, tetapi Libya bukan Iran dan Iran bukan Libya yang hanya berpenduduk 6 juta jiwa. Iran bukan Panama, Grenada atau Serbia yang berhasil ditundukkan AS. Iran sangat luas wilayahnya, militan rakyatnya, solid para pemimpinnya dan berpenduduk 75 juta jiwa, adalah negara Islam dengan kekuatan militer terbesar dan termodern di Timur Tengah. Kekuatan militer Iran hanya bisa ditandingi Mesir dan Israel.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mungkinkah terjadi perang besar di Timur Tengah sebagai akibat dari krisis nuklir Iran dan Selat Hormuz?

Pertama, perang bisa saja meletus kalau Iran benar-benar melaksanakan ancamannya untuk menutup selat Hormuz. Iran baru akan melaksanakan ancamannya untuk menutup selat yang merupakan jalur vital lalu lintas ekspor minyak dunia itu jika perekonomiannya terancam bangkrut akibat pembekuan bank sentralnya dan diembargo ekspor minyaknya. Iran akan nekat menutup Selat Hormuz apapun risikonya karena merasa memiliki hak untuk membela diri dari intervensi asing terutama AS dan Israel. Iran pantas merasa didzalimi, mengapa AS yang memiliki 10.000 senjata nuklir dan Israel yang jelas-jelas telah memiliki 200-300 senjata nuklir sebagaimana dikatakan ahli nuklir Israel yang membelot, Mordechai Vanunu tidak pernah dipersoalkan PBB, Barat dan IAEA. Sedangkan Iran yang belum terbukti sama sekali memiliki satupun senjata nuklir, sudah dijatuhi empat kali putaran sangsi PBB.

Kedua, yang mampu mencegah terjadinya perang besar di Timur Tengah bukannya Presiden Iran Mahmud Ahmadinedjad, tetapi pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Maka sangatlah tepat jika baru-baru ini Presiden Barack Obama mengirim surat secara rahasia kepada Ayatullah Ali Khamenei yang isinya meminta agar Iran tidak menutup Selat Hormuz dan pemerintah AS menginginkan dibukanya ‘hot line’ dengan Iran serta perundingan langsung kedua negara. Sebab selama ini kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik setelah terjadinya Revolusi Islam Iran (1979) dan disusul dengan penyanderaan Staf Kedubes AS di Teheran selama 444 hari oleh mahasiswa Iran (1980-1981).

Ketiga, perang besar di Timur Tengah dapat dihindari jika PBB dan masyarakat internasional terutama China dan Rusia mampu meyakinkan para pemimpin Barat dan Iran, bahwa dialog harus lebih diutamakan daripada menggunakan kekuatan militer. Perdamaian dan stabilitas kawasan Teluk Persia khususnya dan Timur Tengah umumnya harus lebih diutamakan. Sebab penggunaan kekuatan militer tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan semakin memperuncing masalah.

Penulis, Dosen Prodi Pendidikan Geografi FKIP dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Artikel" Lainnya